Update Pencarian Kapal Arupadhatu Banten Area Pencarian Terus Diperluas
Operasi Update Pencarian Kapal Arupadhatu Banten terus berkembang setelah speedboat Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tiga kru hilang kontak dalam perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Memasuki perkembangan terbaru, tim SAR gabungan memperluas penyisiran hingga laut lepas di sebelah barat Selat Sunda dan perairan Lampung. Sampai laporan terbaru yang tersedia, kapal dan delapan orang di dalamnya belum ditemukan.
Arupadhatu 1 berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB untuk membawa rombongan melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Operasi pencarian Arupadhatu 1 di Selat Sunda kini menjadi operasi gabungan besar dengan dukungan Basarnas, TNI AL, kepolisian, pemerintah daerah, masyarakat, dan nelayan. Berbagai armada laut hingga pemantauan udara dikerahkan untuk memperbesar kemungkinan menemukan kapal.
Update Pencarian Kapal Arupadhatu Banten Terus Diperluas
Update Pencarian Kapal Arupadhatu Banten pada hari keempat menunjukkan perubahan penting pada wilayah operasi. Tim tidak lagi hanya berkonsentrasi di sekitar rute Carita menuju Anak Krakatau. Basarnas memperluas penyisiran hingga laut lepas sebelah barat Selat Sunda serta perairan yang mengarah ke Lampung.
Perluasan tersebut dilakukan karena hingga penyisiran sebelumnya belum ditemukan tanda pasti keberadaan kapal. Basarnas menggunakan pemetaan prediksi SAR dengan memperhitungkan arah angin, arus permukaan, dan arus bawah laut. Berdasarkan pemodelan sebelumnya, kemungkinan pergeseran objek diperkirakan mengarah ke barat daya.
Pelampung yang Ditemukan Ternyata Bukan Milik Arupadhatu
Salah satu perkembangan penting berasal dari penemuan benda yang awalnya diduga dapat menjadi petunjuk. KAL Anyer TNI AL menemukan benda berupa pelampung atau life jacket berwarna oranye dan benda menyerupai botol berwarna putih di perairan sebelah barat laut Anyer. Lokasinya sekitar 7,05 mil laut dari wilayah Anyer.
Namun, pemeriksaan berikutnya tidak menghubungkan benda tersebut dengan Arupadhatu 1. Polda Banten menyatakan berdasarkan pemeriksaan dan keterangan pemilik kapal, perlengkapan yang ditemukan tersebut bukan berasal dari speedboat yang sedang dicari. Artinya, temuan itu belum memberikan titik terang mengenai posisi Arupadhatu 1.
Temuan Pelampung Kedua Juga Bukan dari Kapal
Perkembangan terbaru lainnya datang dari pemeriksaan terhadap pelampung kedua yang ditemukan KAL Anyer pada operasi hari keempat. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menyatakan pada Sabtu, 12 September 2026 bahwa benda tersebut juga bukan perlengkapan milik Arupadhatu 1.
Keterangan itu telah dicocokkan dengan pemilik kapal, Sandi Wiyasa. Dengan demikian, dua temuan perlengkapan keselamatan yang sempat diperiksa belum dapat digunakan sebagai petunjuk posisi speedboat Arupadhatu 1 yang hilang kontak. Tim pencarian masih harus mengandalkan penyisiran wilayah dan analisis pergerakan arus.
Lima Jurnalis dan Tiga Kru Masih Dicari
Arupadhatu 1 membawa delapan orang. Lima di antaranya merupakan jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA Biro Banten, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Tiga orang lainnya adalah Warta (55) sebagai kapten kapal, Surakman (60) sebagai anak buah kapal, serta Heriyanto (49) sebagai pemandu. Mereka berangkat bersama dari Carita menuju kawasan Anak Krakatau untuk melakukan kegiatan peliputan.
Arupadhatu 1 Menggunakan Dua Mesin
Pemilik Arupadhatu 1, Sandi Wiyasa, sebelumnya menjelaskan speedboat tersebut mempunyai panjang sekitar tujuh meter dan lebar 2,2 meter. Kapal menggunakan dua mesin serta dilengkapi jaket pelampung. Menurut pemiliknya, kapal juga memiliki izin dan menjalani pemeriksaan dari syahbandar.
Namun, satu informasi yang menjadi perhatian adalah kapal tidak dilengkapi radio komunikasi dan mengandalkan telepon seluler. Arupadhatu 1 sebelumnya biasa digunakan untuk perjalanan menuju Anak Krakatau maupun Ujung Kulon. Sebelum perjalanan bersama rombongan jurnalis, kapal juga disebut baru kembali dari Ujung Kulon.
Pencarian Melibatkan Armada Laut dan Udara
Operasi tidak hanya dilakukan menggunakan kapal. Basarnas juga mengerahkan helikopter HR-3604 dari Lanud Atang Sanjaya untuk melakukan pemantauan dari udara. Selain itu, penggunaan drone termal ikut mendukung pencarian.
Di laut, berbagai unsur SAR, TNI AL, kepolisian, serta kapal masyarakat terlibat dalam penyisiran. Pada hari ketiga saja dilaporkan 11 kapal melakukan pencarian di Selat Sunda. Operasi kemudian kembali diperbesar ketika area pencarian semakin luas.
Pulau Sekitar Anak Krakatau Kembali Disisir
Selain mencari di laut terbuka, petugas kembali memeriksa pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau. Strategi tersebut penting untuk mengantisipasi kemungkinan kapal atau penumpang terbawa arus menuju pulau maupun wilayah pesisir.
Perkembangan pencarian jurnalis hilang di Banten juga dipengaruhi kondisi cuaca dan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Karena itu, sektor operasi dapat disesuaikan berdasarkan kondisi aktual di lapangan sehingga keselamatan personel SAR tetap menjadi pertimbangan.
Gubernur Banten Ikut dalam Penyisiran

Operasi tersebut juga mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Banten. Gubernur Banten Andra Soni pada Jumat, 11 September 2026 ikut melakukan penyisiran wilayah perairan Selat Sunda bersama tim pencarian.
Pemprov Banten menyatakan akan memberikan dukungan sesuai kewenangan dan kemampuan yang tersedia. Keterlibatan pemerintah daerah melengkapi operasi gabungan yang sudah melibatkan berbagai instansi serta masyarakat pesisir.
Belum Ada Bukti Pasti Mengenai Posisi Kapal
Sampai perkembangan terbaru, belum ada temuan yang dapat memastikan posisi Arupadhatu 1. Temuan pelampung yang sebelumnya menimbulkan harapan baru justru telah dikesampingkan setelah pemeriksaan menunjukkan benda tersebut bukan perlengkapan kapal.
Karena itu, informasi yang menyebut kapal atau seluruh penumpangnya telah ditemukan perlu dihindari sebelum ada konfirmasi resmi. Operasi pencarian masih berfokus pada perluasan area, penyisiran pulau, pemantauan udara, dan analisis kemungkinan pergeseran akibat arus laut.
Update Pencarian Kapal Arupadhatu Banten menunjukkan operasi SAR masih terus berlangsung dan wilayah penyisiran semakin luas. Speedboat yang membawa lima jurnalis serta tiga kru tersebut belum ditemukan setelah hilang kontak dalam perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau. Tim SAR memperluas operasi hingga laut lepas barat Selat Sunda dan perairan Lampung.
Temuan life jacket dan benda lain yang sempat diperiksa juga belum memberikan petunjuk karena dinyatakan bukan milik Arupadhatu 1. Fokus pencarian sekarang tetap diarahkan pada penyisiran laut dan pulau sekitar, pemantauan udara, serta perhitungan pergerakan arus untuk menemukan kapal dan seluruh orang di dalamnya.
FAQ
Bagaimana Update Pencarian Kapal Arupadhatu Banten terbaru?
Area pencarian terus diperluas hingga laut lepas sebelah barat Selat Sunda dan perairan Lampung. Kapal dan delapan orang di dalamnya masih dalam pencarian berdasarkan laporan terbaru.
Apakah pelampung yang ditemukan berasal dari Arupadhatu 1?
Tidak. Pemeriksaan terhadap temuan pelampung menyatakan benda tersebut bukan perlengkapan milik Arupadhatu 1.
Berapa orang yang berada di Arupadhatu 1?
Terdapat delapan orang, terdiri dari lima jurnalis, seorang kapten, seorang ABK, dan seorang pemandu.
Kapan Arupadhatu 1 mulai hilang kontak?
Kapal berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau sebelum kemudian kehilangan komunikasi.
Apa saja yang digunakan untuk mencari Arupadhatu 1?
Operasi melibatkan berbagai kapal SAR dan kapal unsur gabungan, pemantauan menggunakan helikopter, drone termal, serta bantuan kapal masyarakat dan nelayan.