Ribuan warga memenuhi sejumlah ruas jalan di Kota Tangerang untuk menyaksikan salah satu agenda budaya besar yang digelar pada Minggu, 27 September 2026. Kirab Budaya Ruwat Bumi Banten tahun ini dipusatkan di Tjie Thien Ta Sen Bio, Jalan Bouraq No. 39, Pintu Air Timur, Kota Tangerang. Puncak perayaan menghadirkan arak-arakan sekitar 90 joli atau tandu suci dari berbagai vihara dan kelenteng, lengkap dengan kesenian tradisional yang membuat suasana jalanan kota berlangsung semarak.
Kirab tersebut menjadi puncak rangkaian peringatan Sejit Yang Mulia Suci Kongco Tjie Thien Ta Sen sekaligus HUT ke-43 Tjie Thien Ta Sen Bio. Kegiatan bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga diarahkan untuk melestarikan tradisi, memperkenalkan keragaman budaya kepada generasi muda, serta mempererat hubungan masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Kementerian Agama juga mencatat unsur pemerintah, aparat, legislatif, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pegiat budaya ikut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kirab Budaya Ruwat Bumi Banten Digelar 27 September 2026
Puncak Kirab Budaya dan Ruwat Bumi Kota Tangerang 2026 berlangsung pada Minggu, 27 September. Namun, keseluruhan acaranya sebenarnya telah dimulai sejak 23 September dan berlangsung selama lima hari. Berbagai kegiatan keagamaan, ritual dan pertunjukan seni digelar sebelum memasuki agenda kirab pada hari terakhir.
Pemerintah Kota Tangerang sebelumnya memperkirakan sekitar 2.000 hingga 3.000 orang akan terlibat atau menyaksikan acara, terdiri dari sekitar 700–1.000 peserta aktif dan 1.000–2.000 penonton. Setelah kegiatan berlangsung, laporan Pemkot menyebut ribuan masyarakat benar-benar memadati jalur kirab untuk melihat arak-arakan secara langsung.
90 Joli Suci Diarak Keliling Kota Tangerang
Salah satu pemandangan utama pada puncak acara adalah 90 joli, yaitu tandu suci yang digunakan untuk membawa patung dewa-dewi. Puluhan joli tersebut diarak bersama berbagai unsur kesenian dan peserta budaya melewati jalan-jalan Kota Tangerang.
Joli yang mengikuti kirab tidak hanya berasal dari Kota Tangerang. Menurut penyelenggara, peserta datang dari vihara dan kelenteng berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor, Karawang, Sukabumi, Semarang hingga Palembang. Kehadiran peserta lintas daerah membuat perayaan mempunyai cakupan yang lebih luas daripada agenda komunitas lokal.
Tradisi Besar yang Digelar Tujuh Tahun Sekali
Hal menarik lainnya, kirab besar dengan arak-arakan joli ini disebut sebagai tradisi yang dinantikan karena diselenggarakan setiap tujuh tahun sekali. Karena jedanya cukup panjang, penyelenggaraan 2026 mendapatkan perhatian besar dari masyarakat yang ingin menyaksikannya secara langsung.
Penyelenggara bahkan berharap edisi tujuh tahun mendatang dapat berkembang lebih besar dengan mengundang joli dari negara-negara tetangga. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa tradisi Ruwat Bumi Tangerang tidak hanya dipertahankan sebagai ritual, tetapi juga diarahkan menjadi salah satu daya tarik wisata budaya kota.
Pusat Acara Berada di Tjie Thien Ta Sen Bio
Seluruh rangkaian utama kegiatan dipusatkan di kawasan Tjie Thien Ta Sen Bio, Jalan Bouraq No. 39, Pintu Air Timur, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Acara tersebut digelar dalam rangka Sejit Yang Mulia Suci Kongco Tjie Thien Ta Sen dan HUT ke-43 kelenteng.
Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberikan dukungan terhadap penyelenggaraannya. Kepala Disbudpar Kota Tangerang Boyke Urif Hermawan menilai kirab mempunyai nilai historis, sosial dan edukatif sekaligus berpotensi memperkuat daya tarik pariwisata budaya daerah.
Rangkaian Acara Sudah Dimulai Sejak 23 September
Rangkaian kegiatan dibuka pada Rabu, 23 September 2026. Agenda hari pertama antara lain pelepasan 1.000 ekor ikan atau Fangsen, ritual San Kung, Cia Peng An, pertunjukan barongsai dan liong, serta peribadatan dan sembahyang bersama pada malam hari.
Kegiatan kemudian berlanjut selama beberapa hari dengan Liang Huang Bao Chan atau Prosesi Pertobatan Kaisar Liang, Cia Peng An, atraksi barongsai, pemasangan 72 lilin serta persembahan 72 jenis buah. Pada 26 September, penyelenggara juga melakukan prosesi penerimaan Kiem Sin atau Sen Siang serta Kio/Joli sebelum puncak kirab berlangsung sehari kemudian.
Puncak Kirab Dimulai pada Siang Hari
Rangkaian puncak pada 27 September dimulai sekitar pukul 12.30 WIB dengan menyanyikan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan pembukaan, doa bersama dan penyambutan tamu undangan. Setelah sambutan penyelenggara dan pemerintah daerah, digelar pertunjukan seni dan budaya Nusantara.
Pelepasan kontingen Kirab Budaya Ruwat Bumi Banten dijadwalkan mulai pukul 14.00 WIB. Informasi awal Pemkot menyebut kirab berlangsung sekitar pukul 14.00 hingga 18.00 WIB. Arak-arakan kemudian menyusuri sejumlah jalan utama sebelum kembali menuju kawasan Tjie Thien Ta Sen Bio.
Rute Kirab Melintasi Sejumlah Jalan Utama Tangerang

Rute kirab dimulai dari Jalan Bouraq, kemudian bergerak melalui Jalan TMP Taruna, Jalan Satria Sudirman, Jalan Dewi Sartika, Jalan Otto Iskandardinata dan Jalan KS Tubun. Peserta kemudian melewati Jalan Daan Mogot sebelum kembali menuju Jalan Bouraq.
Karena jalur tersebut merupakan ruas dengan aktivitas masyarakat cukup tinggi, pengaturan dan pengalihan lalu lintas dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Perhubungan serta kepolisian. Sebelum acara, penyelenggara juga mengimbau pengguna jalan menggunakan rute alternatif selama kirab berlangsung.
Barongsai dan Seni Budaya Meramaikan Perayaan
Atraksi budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian acara. Sejak hari pertama, masyarakat dapat menyaksikan pertunjukan barongsai dan liong. Pada hari puncak, kesenian Nusantara juga ditampilkan sebelum kontingen kirab dilepas.
Kehadiran berbagai bentuk kesenian tersebut membuat acara mempunyai daya tarik bagi masyarakat umum, bukan hanya peserta ritual. Dokumentasi setelah acara memperlihatkan puluhan joli dan kelompok kesenian berjalan mengelilingi kota dengan ribuan warga menyaksikan dari sepanjang jalur.
Budaya Peranakan Tionghoa Menjadi Daya Tarik Tangerang
Kota Tangerang mempunyai sejarah panjang masyarakat peranakan Tionghoa yang menjadi bagian dari perkembangan budaya lokal. Kirab memberikan ruang bagi tradisi tersebut untuk diperkenalkan secara terbuka kepada masyarakat yang lebih luas.
Disbudpar Kota Tangerang melihat penyelenggaraan ini mempunyai potensi menjadi daya tarik wisata budaya. Selain mempertahankan warisan tradisi, kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana edukasi sehingga generasi muda mengenal keberagaman budaya yang berkembang di daerahnya.
Kirab Menjadi Ruang Kebersamaan Masyarakat
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Supriyadi turut menghadiri pelaksanaan kirab pada 27 September. Kementerian Agama menempatkan kegiatan tersebut dalam konteks pelestarian budaya sekaligus penguatan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Pemerintah daerah mempunyai pandangan serupa. Dukungan terhadap kegiatan tidak hanya berkaitan dengan pariwisata, tetapi juga dengan fungsi budaya sebagai ruang pertemuan masyarakat. Nilai kebersamaan tersebut menjadi salah satu pesan yang terus muncul sepanjang penyelenggaraan Ruwat Bumi 2026.
Jangan Tertukar dengan Ruwat Bumi 24 September
Pada pekan yang sama terdapat Kirab Budaya Perdana Ruwat Bumi pada 24 September 2026 yang juga berlangsung di Kota Tangerang. Acara itu merupakan rangkaian peresmian Vihara Tri Bakti Abadi, Bio Fu De Zheng Sen dan Pendopo Banten, serta dilepas oleh Wali Kota Tangerang Sachrudin.
Acara tersebut berbeda dari kirab besar Tjie Thien Ta Sen Bio pada 27 September yang mengarak 90 joli. Pemisahan ini penting karena kedua kegiatan berlangsung berdekatan dan sama-sama menggunakan istilah Kirab Budaya serta Ruwat Bumi sehingga informasi keduanya mudah tercampur.
Kirab Ruwat Bumi Berpotensi Menjadi Wisata Budaya
Antusiasme ribuan pengunjung memperlihatkan bahwa kegiatan tradisional masih mempunyai daya tarik besar. Selain masyarakat lokal, pengunjung dan peserta dari luar Kota Tangerang ikut meramaikan perayaan.
Jika dikembangkan secara konsisten, wisata budaya Kota Tangerang 2026 seperti kirab ini dapat melengkapi destinasi sejarah dan kuliner yang sudah dikenal. Tantangannya adalah menjaga nilai tradisi sebagai bagian utama acara sambil memastikan penyelenggaraan publik tetap tertib dan nyaman.
Kirab Budaya Ruwat Bumi Banten mencapai puncaknya di Kota Tangerang pada Minggu, 27 September 2026. Perayaan dipusatkan di Tjie Thien Ta Sen Bio dan merupakan bagian dari peringatan Sejit Yang Mulia Suci Kongco Tjie Thien Ta Sen sekaligus HUT ke-43 tempat ibadah tersebut.
Sekitar 90 joli suci dari berbagai daerah diarak keliling Kota Tangerang dan disaksikan ribuan masyarakat. Tradisi besar yang disebut berlangsung tujuh tahun sekali ini sekaligus menjadi ruang pelestarian budaya peranakan Tionghoa, edukasi generasi muda dan penguatan kebersamaan masyarakat Tangerang.
FAQ
Kapan Kirab Budaya Ruwat Bumi Banten 2026 berlangsung?
Puncak Kirab Budaya dan Ruwat Bumi berlangsung pada Minggu, 27 September 2026, sedangkan rangkaian acaranya dimulai sejak 23 September.
Di mana lokasi Kirab Budaya Ruwat Bumi 2026?
Pusat kegiatan berada di Tjie Thien Ta Sen Bio, Jalan Bouraq No. 39, Pintu Air Timur, Kota Tangerang, Banten.
Berapa jumlah joli yang mengikuti kirab?
Pemerintah Kota Tangerang melaporkan sekitar 90 joli suci mengikuti arak-arakan pada puncak acara.
Kirab Ruwat Bumi Tangerang memperingati apa?
Kegiatan diselenggarakan dalam rangka Sejit Yang Mulia Suci Kongco Tjie Thien Ta Sen sekaligus HUT ke-43 Tjie Thien Ta Sen Bio. Buddha Guidance Directorate
Apa rute Kirab Budaya dan Ruwat Bumi?
Rute melintasi Jalan Bouraq, TMP Taruna, Satria Sudirman, Dewi Sartika, Otto Iskandardinata, KS Tubun, Daan Mogot dan kembali ke Jalan Bouraq.
Apakah kirab ini digelar setiap tahun?
Untuk kirab besar dengan arak-arakan joli pada penyelenggaraan ini, Pemkot Tangerang melaporkan tradisi tersebut berlangsung setiap tujuh tahun sekali.