Tradisi Seren Taun Kasepuhan Cisungsang Lebak kembali menjadi salah satu perayaan budaya penting di Kabupaten Lebak, Banten pada 2026. Tradisi tahunan masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen dan keberkahan yang diterima masyarakat selama satu tahun. Lebih dari sekadar perayaan, Seren Taun menjadi ruang untuk menjaga hubungan antara manusia, alam, budaya, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Pada penyelenggaraan 2026, puncak Upacara Seren Taun berlangsung pada Minggu, 27 September 2026 di Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Rangkaian kegiatannya memadukan ritual adat, kesenian tradisional, kegiatan kebudayaan, pemberdayaan UMKM hingga aktivitas berbasis lingkungan. Seren Taun Cisungsang juga menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara 2026, sehingga tradisi masyarakat adat Lebak ini semakin dikenal sebagai salah satu kekayaan budaya Banten.
Seren Taun Kasepuhan Cisungsang Lebak 2026
Rangkaian utama Seren Taun Cisungsang 2026 berlangsung pada 21–28 September 2026, dengan puncak kegiatan dilaksanakan pada 27 September. Berbagai unsur masyarakat, tokoh adat, pemerintah daerah hingga pemerhati kebudayaan turut hadir dalam penyelenggaraan tersebut.
Meskipun rangkaian acaranya dapat berkembang menjadi daya tarik wisata budaya, Seren Taun pada dasarnya tetap merupakan ritual penting bagi masyarakat Kasepuhan Cisungsang. Karena itu, penyelenggaraannya tidak dapat dipisahkan dari aturan adat, penghormatan terhadap masyarakat setempat dan nilai sakral yang terdapat dalam setiap prosesi.
Makna Seren Taun bagi Masyarakat Cisungsang
Seren Taun berhubungan erat dengan kehidupan agraris masyarakat. Hasil pertanian, khususnya padi, tidak hanya dipandang sebagai komoditas pangan, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat adat.
Secara sederhana, istilah seren berkaitan dengan makna menyerahkan, sedangkan taun berarti tahun. Tradisi tersebut kemudian dimaknai melalui penyerahan hasil bumi sebagai ungkapan syukur atas hasil yang diperoleh selama satu tahun sekaligus menyambut perjalanan kehidupan pada periode berikutnya.
Tradisi Seren Taun masyarakat adat Lebak juga menggambarkan bagaimana manusia tidak ditempatkan sebagai pihak yang berdiri sendiri. Kehidupan manusia dipandang mempunyai hubungan dengan alam sehingga pemanfaatan sumber daya perlu dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan.
Beragam Prosesi dan Kesenian Tradisional
Seren Taun 2026 menghadirkan berbagai kegiatan budaya yang memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat setempat. Rangkaian tersebut antara lain mencakup Rasul Pare di Leuit, pertunjukan Wayang Golek, Angklung Buhun, Gondang, Debus hingga Kirab Budaya Nusantara.
Kesenian yang ditampilkan tidak sekadar menjadi hiburan bagi pengunjung. Kehadirannya sekaligus menjadi sarana pewarisan budaya karena generasi muda dapat mengenal kembali kesenian, ritual dan pengetahuan tradisional yang hidup di lingkungan masyarakatnya.
Selain kegiatan adat dan kesenian, terdapat pula workshop batik, olahraga tradisional dan Festival Objek Pemajuan Kebudayaan. Perpaduan tersebut membuat Seren Taun mempunyai ruang yang luas untuk mempertemukan tradisi dengan aktivitas masyarakat masa kini.
Padi Menjadi Bagian Penting dalam Seren Taun
Padi mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Kasepuhan. Karena itu, hasil panen menjadi salah satu unsur yang sangat erat dengan pelaksanaan Seren Taun. Perayaan dilakukan setelah masyarakat menyelesaikan masa panen sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil yang telah diperoleh.
Nilai tersebut membuat Seren Taun berbeda dengan festival hiburan biasa. Di balik keramaian pertunjukan budaya terdapat sistem pengetahuan lokal mengenai pertanian, pengelolaan pangan, kehidupan masyarakat dan hubungan dengan lingkungan.
Upacara adat Kasepuhan Cisungsang Banten pada akhirnya menjadi salah satu cara masyarakat mempertahankan pengetahuan tersebut agar tidak terputus ketika kehidupan sosial terus mengalami perubahan.
Seren Taun Masuk Karisma Event Nusantara 2026

Posisi Seren Taun Cisungsang semakin kuat setelah menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara atau KEN 2026. Status tersebut memberikan ruang lebih luas untuk memperkenalkan kebudayaan masyarakat adat Banten kepada wisatawan dari berbagai daerah.
Namun, pengembangan wisata budaya tetap perlu ditempatkan secara hati-hati. Masyarakat adat merupakan pemilik tradisi sehingga kepentingan pelestarian budaya, lingkungan dan aturan adat tetap menjadi bagian utama dalam pengembangan kegiatan pariwisata.
Pemerintah Provinsi Banten juga memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Seren Taun, termasuk melalui peningkatan fasilitas, akses menuju lokasi, promosi serta koordinasi untuk mengantisipasi kepadatan ketika jumlah pengunjung meningkat.
Perempuan Adat Mendapat Ruang Lebih Besar
Salah satu perhatian dalam Seren Taun Cisungsang 2026 adalah penguatan peran perempuan adat. Perempuan mempunyai kontribusi penting dalam mempertahankan kehidupan keluarga, pangan, pengetahuan tradisional hingga berbagai aktivitas kebudayaan.
Rangkaian kegiatan tahun ini juga diarahkan untuk memperlihatkan kontribusi tersebut. Salah satunya melalui kegiatan gastronomi lokal yang melibatkan perempuan adat Kasepuhan Cisungsang.
Pendekatan tersebut membuat pelestarian budaya tidak berhenti pada pertunjukan. Pengetahuan mengenai bahan pangan, cara pengolahan makanan hingga kuliner tradisional juga dapat diwariskan sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat.
UMKM dan Ekonomi Masyarakat Ikut Bergerak
Kedatangan pengunjung dalam jumlah besar memberikan peluang bagi pelaku usaha lokal. Produk kerajinan, makanan tradisional dan berbagai hasil ekonomi kreatif masyarakat dapat diperkenalkan kepada wisatawan selama rangkaian Seren Taun.
Pameran produk UMKM lokal menjadi salah satu bagian dari kegiatan. Pengunjung tidak hanya menyaksikan prosesi dan pertunjukan budaya, tetapi juga mempunyai kesempatan mengenal produk yang dibuat masyarakat sekitar.
Jika dikelola secara berkelanjutan, wisata budaya Kasepuhan Cisungsang Lebak dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa harus mengubah karakter utama tradisi. Prinsipnya adalah menjadikan kebudayaan sebagai sesuatu yang tetap hidup di tengah masyarakat, bukan semata-mata komoditas pertunjukan.
Menjaga Alam Menjadi Bagian dari Tradisi
Hubungan dengan alam menjadi nilai penting yang terus terlihat dalam Seren Taun. Masyarakat Kasepuhan mempunyai tradisi dan pengetahuan lokal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, pertanian serta pemanfaatan sumber daya.
Pada penyelenggaraan modern, semangat tersebut dikembangkan melalui berbagai aktivitas bertema keberlanjutan. Edukasi lingkungan, pengenalan tanaman herbal dan pengetahuan konservasi menjadi beberapa unsur yang dapat memperkuat hubungan antara tradisi dengan tantangan lingkungan masa kini.
Konsep green tourism juga menjadi bagian dari pengembangan pengalaman wisata. Pendekatan ini penting agar meningkatnya jumlah wisatawan tidak justru menimbulkan tekanan baru terhadap lingkungan tempat masyarakat adat menjalankan kehidupan sehari-hari.
Wisatawan Harus Menghormati Aturan Adat
Seren Taun memang terbuka untuk dikenal masyarakat luas, tetapi pengunjung tetap perlu memahami bahwa mereka memasuki lingkungan masyarakat adat. Menghormati tata krama, tidak mengganggu prosesi, menjaga kebersihan dan mengikuti arahan masyarakat setempat merupakan hal penting.
Wisatawan juga sebaiknya tidak memandang seluruh prosesi hanya sebagai objek untuk mengambil foto atau video. Beberapa bagian mempunyai makna khusus bagi masyarakat sehingga penghormatan terhadap batas yang ditentukan pemangku adat perlu menjadi prioritas.
Dengan pendekatan seperti itu, perkembangan pariwisata dapat berjalan bersama pelestarian budaya. Pengunjung memperoleh pengalaman budaya yang autentik, sementara masyarakat tetap mempunyai kendali terhadap tradisi dan lingkungan mereka.
Seren Taun Kasepuhan Cisungsang Lebak merupakan tradisi tahunan masyarakat adat di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus upaya mempertahankan hubungan harmonis antara manusia, budaya dan alam. Pada 2026, puncak upacara berlangsung pada 27 September 2026, dengan rangkaian utama kegiatan pada 21–28 September.
Masuknya Seren Taun Cisungsang dalam Karisma Event Nusantara 2026 semakin membuka kesempatan memperkenalkan kebudayaan Banten secara lebih luas. Namun, nilai terpenting dari tradisi ini tetap berada pada keberlanjutan adat, pengetahuan lokal, penghormatan terhadap alam dan kemampuan masyarakat Kasepuhan Cisungsang untuk mewariskan identitas budayanya kepada generasi berikutnya.
FAQ
Apa itu Seren Taun Kasepuhan Cisungsang?
Seren Taun merupakan ritual adat tahunan masyarakat Kasepuhan Cisungsang sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus bagian dari pelestarian tradisi dan kearifan lokal.
Di mana Seren Taun Cisungsang dilaksanakan?
Kegiatan dilaksanakan di kawasan Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Kapan puncak Seren Taun Cisungsang 2026?
Puncak Upacara Seren Taun Cisungsang 2026 berlangsung pada Minggu, 27 September 2026.
Apa saja kegiatan dalam Seren Taun Cisungsang?
Rangkaiannya mencakup ritual adat, Rasul Pare di Leuit, Wayang Golek, Angklung Buhun, Gondang, Debus, Kirab Budaya Nusantara, kegiatan kebudayaan, UMKM serta aktivitas bertema lingkungan.
Apakah Seren Taun Cisungsang termasuk KEN 2026?
Ya. Seren Taun Kasepuhan Cisungsang menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara 2026.
Mengapa Seren Taun penting untuk dilestarikan?
Tradisi ini menyimpan nilai mengenai pertanian, kebersamaan, hubungan manusia dengan alam, pengetahuan lokal serta identitas budaya masyarakat adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Apakah wisatawan dapat mengunjungi Seren Taun Cisungsang?
Seren Taun dapat menjadi pengalaman wisata budaya, tetapi pengunjung harus menghormati aturan adat, menjaga kebersihan dan tidak mengganggu prosesi yang mempunyai nilai penting bagi masyarakat Kasepuhan.